Perjalanan Saya Bersama ChatGPT: Menulis untuk Mengingat
Saya pertama kali pakai ChatGPT sekitar Agustus 2023. Awalnya cuma iseng — nanya soal saham, iseng bikin lirik, dan kadang minta bantu rangkai narasi. Waktu itu, jujur, masih sering error. Kalau upload file, suka gak nyambung. Tapi saya tetap pakai, karena merasa ada potensi di situ.
Lama-lama, ChatGPT berubah. Sekarang, tahun 2025, sudah jadi seperti teman diskusi yang ngerti ritme kerja saya. Bisa bantu bandingkan laporan keuangan, analisis skenario saham, bahkan bantu menyusun ulang lirik lagu personal yang gak mudah saya ungkapkan sendirian.
Tapi dari semua fungsinya, yang paling penting buat saya: ChatGPT bantu saya menulis untuk mengingat.
Saya ini orangnya pelupa. Dulu suka nulis di Instagram, sekarang pindah ke blogspot — supaya lebih tenang, gak keganggu noise saham dan euforia pasar. Di situ, saya sering tuangkan hasil diskusi saya dengan ChatGPT. Biasanya saya tulis dulu manual, lalu saya minta bantuannya untuk merapikan narasi, supaya nanti kalau saya baca ulang, gak perlu mikir ulang dari nol.
Saya gak nulis untuk terlihat pintar. Bukan untuk jadi panutan. Bukan juga buat jualan kelas. Murni karena saya ingin ingat apa yang pernah saya pikirkan. Dan ternyata, AI bisa bantu saya menjaga itu.
Saya gak tahu apakah orang lain merasakan hal yang sama. Tapi buat saya pribadi, perjalanan ini cukup berarti. Bukan karena teknologinya canggih, tapi karena akhirnya saya punya cara untuk berdamai dengan lupa — tanpa merasa harus selalu mengingat semuanya sendirian.
Dan yah… anggap saja saya bayar 300 ribu rupiah per bulan (ChatGPT Plus) untuk punya rekan kerja yang gak pernah ngeluh, gak minta cuti, dan bisa bantu kerjaan dari nulis lagu sampai baca laporan keuangan. Coba kalau manusia digaji segitu… udah pasti jadi thread Twitter:
“Investor saham underpaid asistennya — a thread.”