Jejak pendanaan Meikarta
Meikarta merupakan anak usaha dari Lippo Cikarang (LPCK) yang sangat populer ditahun 2017 dengan iklan yang sangat masif di media cetak dan digital, dengan angka iklan Rp 1,5T melebihi Traveloka dan Indomie di tahun itu, memperjelas bahwa ini merupakan projek ambisius dari Lippo Group untuk memperluas area bisnisnya di cikarang. setelah sebelumnya sukses membangun kawasan Industry dan perumahan di daerah itu. meski sayang projek ini belum jelas kelanjutannya.
ambisi dari Grup konglomerasi ini sangat terlihat dari awal berdirinya PT Mahkota Sentosa Utama (Meikarta) dan beberapa aksi korporasi yang di lakukan LPCK selama 2019-2024.
di tahun 2019 LPCK melakukan Right Issue untuk memberi Pinjaman ke MSU senilai Rp 2,9T. pembeli siaga dari aksi korporasi ini adalah PT Kemuning Setiatama (KMST) yang mendapatkan dana dari Right issue LPKR. LPKR pun mendapatkan dana dari entitas affiliasi Inti Anugerah Pratama (IAP) dan anak usahanya Sierra.
kepemilikan LPCK pada MSU sebesar 49,7% membuat laporan konsolidasian LPCK menjadi rapi yang bisa dipakai untuk pendanaan di masa depan.
namun berselang 1 tahun setelah aksi korporasi ini, MSU mengalami dua masalah serius.
pertama gugatan pailit senilai Rp 7T dari 15.722 kreditur gabungan dari Vendor-Vendor dan Konsumen.
kedua macetnya pembayaran bunga MTN senilai Rp 306,6M dengan total utang Rp 3,7 T (kurs 14rb).
gugatan pailit berujung damai dan ditunda hingga 2027. sedangkan MTN yang macet akhirnya dikonversi oleh Mega Kreasi Cikarang Permai (MKCP) yang dimiliki LPCK 99% selaku pemegang unit Dana Investasi Infrastukrur Bowsprit Township Development USD (DINFRA) yang di terbitkan oleh MSU. Bowsprit adalah asset management Lippo dengan spesialisasi pendanaan projek projek Real Estate Investment Trust (REIT).
konversi ini membuat MSU terkonsolidasi dalam laporan keuangan Q3 2024 LPCK juga
munculnya realisasi kerugian Rp 1,7T yang langsung mendifistkan saldo laba di Q3 akibat selisih atas nilai wajar konversi DINFRA menjadi saham MSU.
maka tidaklah heran apabila harga saham LPCK dari 815 turun drastis ke 520.
Liabilitas naik signfikan semenjak konversi MSU, managament Lippo yang ahli dalam memutarkan pendanaan langung mengadakan RUPSLB untuk meminta persetujuan Right Issue II LPCK. namun kali ini tidak ada pembeli siaga dari aksi korporasi senilai Rp 1,2T harga pelaksanaan 500 dengan 95% (potensi dilusi 52,6%) peruntukan setoran modal MSU meski KMST sudah setoran awal Rp750 M.
tentu dengan dana segar Rp 1,2T belum cukup melunasi seluruh total liabilitas MSU senilai Rp4,5T sebelum konsolidasi yang terdiri dari: Liabilitas kontrak Rp 3,7T, Utang Usaha Rp 515M, Beban yang masih harus dibayar Rp 330M.
MSU masih memiliki waktu 2 tahun lagi untuk menuntaskan utang Rp 7T yang jatuh tempo 2027, entah bagaimana cara mereka menyelesaikan ini, apa ada hubungan dengan penjualan usaha finance Lippo dan munculnya entitas Cayman island di LPLI atau pendanaan baru lagi? tapi intinya Rp 7T mesti beres dulu sebelum bisa menggaungkan "Meikarta Reborn".
dari Jejak Pendanaan Lippo Grup di Meikarta bisa disimpulkan memang mereka sangat ahli dalam restrukturisasi sebuah projek yang megap megap.
dengan Nilai Buku 5,2T di Q3 2024, maka PBV berada dikisaran 0,2 (ketika tulisan ini di tulis). secara cigarbutt sangat menarik, namun siapkanlah dana lebih apabila Lippo melakukan Right issue susulan. jika merasa restrukturisasi ini adalah awal dari turnaroundnya Meikarta.