Dongeng: Rubah Tua dan Anak yang Suka Pamer
Di ujung hutan yang rindang, tinggallah seekor rubah tua bernama Ruzki. Ia dikenal cerdik, gesit, dan pandai berdansa di antara bayang-bayang kekuasaan. Saat matahari berpihak pada burung elang, Ruzki menyambutnya hangat. Saat hujan datang dari arah musang, Ruzki menunduk sopan.
Ia jarang terlihat berburu, tapi guanya tak pernah sepi. Penuh aroma buah manis dan daging asap. Dan anaknya, si Raku, selalu tampak mencolok: berjalan memakai kalung dari sisik ikan langka, topi dari bulu merak yang tak hidup di hutan itu, dan sepatu berlapis getah bening.
Suatu sore, saat matahari rendah dan angin malas bergerak, Raku menendang kura-kura tua hanya karena jalannya lambat. Kalungnya jatuh ke tanah. Kura-kura memandangnya lama, lalu berkata,
“Itu kalungku. Hilang dari sarangku satu musim yang lalu.”
Hutan pun hening.
Satu demi satu, suara muncul dari balik semak, dari dahan, dari celah akar:
“Itu wadah makanku.”
“Itu tempat tidur bayiku.”
“Itu tali anyaman yang kubuat semalaman.”
Para burung hantu penjaga hutan pun terbang ke gua Ruzki. Mereka mengendus bau-bau lama, membuka peti kayu tua, dan menemukan tumpukan barang-barang dari segala penjuru hutan.
Mereka temukan dalam gelapnya gua:
kerang sungai yang dicuri dari rakitan berang-berang, serbuk madu milik lebah yang menghilang diam-diam, dan tali rumput anyaman burung yang terbangun tanpa sarangnya.
Di sudut lain, mereka juga menemukan tulang-tulang buruan yang dikeringkan sendiri oleh Ruzki, jamur kering hasil berburu pagi hari, dan kantong kulit tempat Ruzki menyimpan air embun yang ia kumpulkan sejak muda.
Tapi semua ikut diangkut. Tak ada waktu memilah mana milik sah, mana hasil curian.
“Ini hanya benda yang aku temukan di jalan,” kata Ruzki pelan. Tapi tak ada yang percaya.
⸻
Keesokan harinya, seluruh isi gua dibagikan kepada warga hutan.
Perabotnya, makanannya, bahkan hasil jerih payahnya sendiri ikut terbagi.
Hutan bersorak, tapi Ruzki hanya diam.
Raku kini berjalan sendiri—tanpa kalung, tanpa sepatu, tanpa satu pun sorotan mata kekaguman.
Dan Ruzki?
Ia tinggal di liang yang ia gali sendiri, tak ada rak, tak ada perabot, tak ada warisan.
⸻
Pesan Moral:
Barang yang bukan milikmu, cepat atau lambat akan kembali ke yang berhak. Dan kadang, kelakuan anakmu membuka semua rahasia yang selama ini kau sembunyikan.