Pendekar Jazz, Finfluencer, dan Regulasi yang Perlu Narasi
Beberapa waktu lalu, OJK mulai bicara soal regulasi finfluencer—orang-orang yang membahas keuangan di media sosial. Ini menarik, karena fenomena ini mengingatkan saya pada sesuatu yang pernah saya alami langsung di dunia jazz.
Beberapa tahun lalu, saya cukup sering hadir di acara jamming jazz. Saya menikmati permainan para pendekar jazz yang skill-nya luar biasa, yang kalau sudah solo rasanya seperti sedang membangun monumen musik dalam beberapa menit. Tapi di sisi lain, saya juga pernah merasakan pengalaman berbeda ketika Ardhito Pramono mulai dikenal dengan pop-jazz-nya.
Saat itu, Ardhito bukan hanya menyanyikan lagu-lagunya sendiri, tapi juga menghidupkan kembali musik jazz klasik lewat cara yang lebih santai dan relevan untuk anak muda. Salah satu momen yang paling berkesan buat saya adalah ketika saya diajak ikut dalam salah satu kontennya. Saya melihat langsung bagaimana ia membawakan jazz dengan cara yang tidak “menakutkan” bagi pendengar baru. Di IG Live-nya, dia membaca isu-isu anak muda, mengobrol santai, lalu menyambungkan semuanya dengan lagu-lagu yang ia bawakan—entah itu lagu sendiri atau lagu-lagu Louis Armstrong, Chet Baker, dan musisi jazz klasik lainnya.
Jujur, saya sempat kaget. Selama ini, jazz selalu punya stigma sebagai musik yang rumit dan tua. Tapi tiba-tiba, anak-anak muda yang mengikuti Ardhito mulai mendengarkan Chet Baker dan mencari tahu lebih banyak tentang jazz.
Sementara itu, di sisi lain, ada komunitas jazz yang lebih “serius.” Saya sering datang ke jamming session, entah untuk ikut bermain atau sekadar menikmati. Seharusnya, ini jadi tempat yang menyenangkan—tempat eksplorasi dan komunikasi lewat musik. Tapi kenyataannya, jamming session sering kali berubah jadi semacam ujian kelayakan. Salah sedikit? Tatapan sinis langsung datang. Kadang terasa seperti ada “dewan juri” tak resmi yang menentukan apakah permainan seseorang cukup jazz atau tidak. Bahkan musik seperti yang dibawakan Ardhito pun sering dianggap “kurang jazz”—mirip seperti anggapan bahwa makan tanpa nasi belum benar-benar makan.
Kalau kita bicara skill murni, jelas para pendekar jazz jauh di atas Ardhito. Tapi kalau kita bicara soal siapa yang berhasil memperkenalkan jazz ke generasi baru? Jawabannya jelas: yang bisa mengomunikasikannya dengan lebih mudah dan relatable.
Ini yang bikin saya kepikiran soal regulasi finfluencer.
OJK tampaknya ingin memastikan bahwa edukasi keuangan di media sosial diberikan oleh orang-orang yang punya kredibilitas. Itu penting, karena keuangan adalah hal yang serius. Tapi kalau tiba-tiba hanya mereka yang punya sertifikasi yang boleh bicara, apakah itu cukup? Apakah mereka sudah siap menyampaikan ilmunya dengan cara yang menarik dan mudah dipahami?
Jangan sampai edukasi keuangan malah jadi seperti jamming session yang terlalu eksklusif tadi—hanya bisa diakses oleh mereka yang sudah paham, sementara orang yang ingin belajar justru merasa takut salah atau tidak cukup pintar untuk ikut.
Sertifikasi itu penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana para ahli ini belajar bernarasi dengan lebih baik. Bagaimana mereka bisa menyampaikan pengetahuan dengan cara yang lebih ringan, menarik, dan sesuai dengan media yang digunakan. Karena pada akhirnya, pengetahuan bukan cuma soal siapa yang paling tahu, tapi siapa yang bisa membuatnya dipahami oleh lebih banyak orang.