Miskonsepsi “Bandar Sangkut”: Mengapa Investor Harus Berhati-hati
Dalam dunia investasi saham, banyak trader ritel yang berpegang pada anggapan bahwa jika suatu saham mengalami akumulasi besar oleh institusi atau bandar, maka harga saham tersebut pada akhirnya akan terdorong naik. Salah satu narasi yang sering muncul adalah “bandar sangkut”—asumsi bahwa jika pihak besar menahan saham di harga tinggi, maka mereka pasti akan mengangkatnya kembali agar tidak mengalami kerugian. Namun, ada satu aspek krusial yang sering diabaikan: kita tidak pernah tahu secara presisi seberapa besar alokasi tersebut dalam total portofolio mereka.
Sebagai contoh, Norges Bank, salah satu dana pensiun terbesar di dunia, pernah tercatat membeli saham $WMPP sebesar 2,6 juta NOK atau sekitar Rp4 miliar. Sekilas, angka ini tampak besar bagi investor ritel. Namun, jika melihat alokasi total investasi Norges Bank di Indonesia yang mencapai 50 miliar NOK atau setara Rp78 triliun—terbagi dalam instrumen ekuitas (0,1%) dan obligasi (0,1%)—maka nilai investasi di $WMPP ini hanyalah bagian yang sangat kecil dari portofolio mereka, setara dengan “jepitan sendal” dibandingkan keseluruhan dana yang mereka kelola.
Miskonsepsi ini sering kali menyesatkan investor ritel yang hanya melihat angka besar pada laporan broker tanpa mempertimbangkan skala alokasi sebenarnya. Misalnya, ada spekulan yang beranggapan, “Norges aja beli, bro! Lu lebih kaya dari Norges? Dia pasti lebih pintar! Duitnya masih banyak, pasti diangkat lagi!” Lalu, tanpa analisis lebih lanjut, mereka ikut membeli saham tersebut, hanya untuk mendapati dirinya terjebak dalam floating loss, terlebih jika sahamnya akhirnya terkena suspensi perdagangan.
Mengekor big accumulation memang bisa menjadi strategi, tetapi investor harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam rasa percaya diri berlebihan. Angka besar di laporan broker belum tentu berarti institusi tersebut memiliki niat besar terhadap saham tertentu. Bisa saja, bagi mereka, investasi tersebut hanyalah bagian kecil dari portofolio besar mereka—bahkan mungkin mereka sudah lupa bahwa mereka memilikinya.
Maka, sebelum mengikuti jejak institusi besar, pastikan untuk selalu melihat gambaran yang lebih luas dan memahami bagaimana alokasi dana mereka secara keseluruhan. Jangan sampai hanya karena angka besar di laporan broker satu saham, keputusan investasi justru menjadi bumerang.